Pameran “Halo Bioskop”

Sebagai upaya untuk merefleksikan perjalanan panjang bioskop di Indonesia, Anantaka bekerjasama dengan Rumah Po HanFreeyay Movie, dan didukung penuh oleh Indonesia Kaya menyelenggarakan rangkaian kegiatan pameran bertajuk ‘Halo Bioskop?’ (15 April – 7 Mei 2023). Rangkaian kegiatan ini digagas sebagai ruang dialog untuk melihat kembali sejarah bioskop di Indonesia. Tak terkecuali catatan dan jejak-jejak bioskop di Semarang dan sekitarnya. Selain untuk merayakan 73 tahun film nasional, dan 123 tahun kehadiran bioskop di Indonesia, rangkaian kegiatan pameran – pemutaran film – diskusi ini, diharapkan mampu memberikan pengetahuan serta mengembangkan diskursus perfilman yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bioskop telah menjadi magnet tontonan masyarakat Indonesia selama kurang lebih 12 dekade, terhitung sejak kemunculan pertamanya di Batavia 1900. Pada masa-masa awal, pertunjukan proyeksi gambar bergerak ini hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu. Lambat laun bioskop renyah dikonsumsi oleh khalayak ramai. Bioskop bukan hanya melulu urusan tontonan dan hiburan. Film-film yang diputar mampu memberikan pengetahuan baru, membangkitkan imajinasi komunal, bahkan menjadi acuan gaya hidup.

Seiring waktu, bioskop menghadapi berbagai tantangan. Perkembangan teknologi yang membawa kehadiran televisi, Betamax, VHS, DVD, hingga platform streaming seperti Netflix. Meski begitu, bioskop tetap mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat. Faktanya, setelah pandemi COVID-19 banyak orang merindukan pengalaman menonton film di layar lebar.

Memorabilia alat pemutar film dan garis waktu sejarah bioskop Indonesia

Pembukaan ‘Halo Bioskop?’

‘Halo Bioskop?’ dibuka tanggal 15 April 2023 dengan seremoni sederhana. Setelah seremonial pembukaan, para tamu undangan dan teman-teman komunitas yang hadir hari itu diajak untuk berkeliling menjelajahi ruang pamer. Pameran menyajikan infografis sejarah bioskop di Indonesia (termasuk catatan-catatan seputar bioskop di Kota Semarang), memorabilia gawai bioskop di masa lalu, serta ragam publikasi film bioskop dari masa ke masa. Acara sore itu diakhiri dengan pemutaran film ‘Darah dan Doa’ karya Usmar Ismail, yang merupakan tonggak awal sejarah Film Nasional.

Bioskop dan Media Baru

Minggu, 16 April 2023 agenda berlanjut dengan pemutaran film dan diskusi #01, yang membahas seputar kondisi bioskop Indonesia dari masa ke masa. Film yang diputar adalah 2 film pendek: ‘Maaf Bioskop Tutup’ (Odefilms, 2010) dan ‘Tiket ke Bioskop’ (Sebelas Sinema Picture, 2017). Setelah pemutaran film dilanjutkan diskusi ‘Bioskop dan Media Film Baru’. Narasumber yang dihadirkan adalah Mulyo Hadi Purnomo (Pengamat Media, dan Dosen FIB Undip), dipandu moderator B. Andang P.A. (Dosen DKV Udinus Semarang).

Agenda berikutnya (29 April 2023) adalah pemutaran film ‘The Jazz Singer’. Film ini adalah film drama musikal Amerika Serikat yang disutradarai oleh Alan Crosland dan diproduksi oleh Warner Bros Pictures. Film ini adalah film berdurasi panjang pertama dengan rekaman musik, nyanyian, dan dialog yang disinkronkan dengan gambar. Rilisnya menandai kehadiran film bersuara dan menjadi akhir era film bisu.

Pemutaran film dan diskusi komunitas (30 April 2023)

Perlengkapan Bertahan Hidup ala Komunitas Film

Diskusi #02 mengambil tema ‘Perlengkapan Bertahan Hidup ala Komunitas Film’ (30 April 2023). Diskusi yang dipandu oleh Haris Yulianto (Freeyay Movie) dan menghadirkan narasumber Khotibul Umam (Dosen FIB Undip). Komunitas film memiliki andil dalam perkembangan Industri perfilman di Indonesia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena konsep komunitas sendiri merupakan ruang yang dibentuk dan dirancang sebagai sebagai laboratorium berjalan. Komunitas senantiasa mempersilahkan tiap-tiap orang untuk bereksperimen, berinkubasi, serta menjadi pasar itu sendiri. Sebelum diskusi tersebut, diputar film-film pendek: ‘Momok’ (Fauzan Al Habibie, 2021), ‘Azabku Azabmu’ (Azam Fi Rullah, 2018), ‘Sop Buntut’ (Deden Rahmadhani, 2010), dan ‘The Grey Heritage’ (Syaikhu Luthfi, 2017).

Publikasi Film Dari Masa Ke Masa

Sebagai salah satu pendukung penting dari industri film, desain publikasi menjadi topik yang tak kalah menarik. Perkembangan bentuk dan teknik reproduksi poster film dari masa ke masa misalnya, ditengarai mampu menjadi penanda dinamika kreatif industri film. Mengambil tema ‘Publikasi Film Dari Masa Ke Masa’, diskusi #03 yang diselenggarakan 4 Mei 2023. Diskusi ini menghadirkan Abi Seno Prabowo (Dosen DKV Udinus) dan dipandu moderator B. Andang P.A. (Dosen DKV Udinus Semarang).

Pagi di hari yang sama, diselenggarakan pula Workshop ‘Pembuatan Film Ramah Anak’. Workshop tersebut dihadiri 40 orang pelajar perwakilan 10 SMP se-Kota Semarang. Bertempat di Kantor BAPPEDA Kota Semarang, workshop tersebut menghadirkan narasumber Leonardo Cardinal (Sure Rictures) dan Tsaniatus Solihah (Anantaka Cultural Trust).

Film dan Perannya bagi Remaja

Pemutaran film di hari-hari terakhir pameran adalah pemutaran film ‘Carnivale’ (Candra Aditya, 2017) diputar tanggal 6 Mei 2023 malam dan film ‘Asa’ (Loeloe Hendra K, 2020) diputar tanggal 7 Mei 2023 pagi. Film ‘Asa’ diputar khusus untuk Forum Anak dan Forum Genre Kota Semarang, dilanjutkan dengan diskusi ‘Film dan Perannya bagi Remaja’ dengan narasumber Nur Hasyim (Dosen UIN Walisongo), dipandu moderator Dodi Susetiadi (Imelda FM).

7 Mei 2023, seluruh rangkaian kegiatan pameran – pemutaran film – diskusi ‘Halo Bioskop?’ resmi ditutup. Antusiasme pengunjung pameran, penonton film yang diputar, serta peserta diskusi, membuktikan gambaran eksistensi bioskop hari ini. Dimasa depan, bisa jadi bioskop akan berevolusi sesuai jamannya. Kehilangan gedung-gedung bioskop yang megah di masa lalu tidak perlu disesali berlebih, tetapi ingatan akan arti penting perjalanan bioskop tidak akan mudah terhapus.

One response to “Pameran “Halo Bioskop””

  1. A WordPress Commenter Avatar

Leave a Reply to A WordPress Commenter Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *